Public Class Latihan35_071
Dim trio As New OleDb.OleDbConnection("PROVIDER = MICROSOFT.ACE.OLEDB.12.0; DATA SOURCE =" & Application.StartupPath & "/datamajemuk.ACCDB")
Dim cari As New ByIskandar.CariKeDataBaseByIskandar
Dim cm As New OleDb.OleDbCommand
Dim dt As New DataTable
Private Sub Latihan35_071_Load(ByVal sender As System.Object, ByVal e As System.EventArgs) Handles MyBase.Load
Dim a As New OleDb.OleDbDataAdapter
a = New OleDb.OleDbDataAdapter("select KODEBARANG, UNIT, HARGA from detailtransaksi where notrans = '" & notrans_071.Text & "'", trio)
a.Fill(dt)
a.Dispose()
DGV_071.DataSource = dt
End Sub
Private Sub tambah_071_Click(ByVal sender As System.Object, ByVal e As System.EventArgs) Handles tambah_071.Click
If kobar_071.Text.Length = 0 Then
MsgBox("Isi rong itu Kode Barang na..")
Exit Sub
End If
If Val(unit_071.Text) = 0 Then
MsgBox("Isi rong itu Unit na..")
Exit Sub
End If
If Val(harga_071.Text) = 0 Then
MsgBox("Isi rong itu Harga na..")
Exit Sub
End If
Dim dr As DataRow
dr = dt.NewRow
dr("KODEBARANG") = kobar_071.Text
dr("UNIT") = unit_071.Text
dr("HARGA") = harga_071.Text
dt.Rows.Add(dr)
kobar_071.Text = ""
unit_071.Text = ""
harga_071.Text = ""
End Sub
Private Sub simpan_071_Click(ByVal sender As System.Object, ByVal e As System.EventArgs) Handles simpan_071.Click
If notrans_071.Text.Length = 0 Then
MsgBox("isi rong No Transaksi na..")
Exit Sub
End If
If jenis_071.Text.Length = 0 Then
MsgBox("Isi rong Jenis Transaksi na..")
Exit Sub
End If
If dt.Rows.Count = 0 Then
MsgBox("Maaf...Isi rong itu datatable na..")
Exit Sub
End If
cari.AturPencarianDataBase("mastertransaksi", "notrans", notrans_071.Text, 1, trio)
If cari.JumlanBaris > 0 Then
MsgBox("Adami notrans seperti itu")
Exit Sub
End If
cm = New OleDb.OleDbCommand("insert into mastertransaksi(notrans, tanggaltransaksi, jenistransaksi) values ('" & notrans_071.Text & "',#" & tanggal_071.Value.Month & "/" & tanggal_071.Value.Day & "/" & tanggal_071.Value.Year & "#,'" & jenis_071.Text & "')", trio)
trio.Open()
cm.ExecuteNonQuery()
trio.Close()
For Each x As DataRow In dt.Rows
cm = New OleDb.OleDbCommand("insert into detailtransaksi(notrans, kodebarang, unit, harga) values ('" & notrans_071.Text & "','" & x("kodebarang") & "','" & x("unit") & "','" & x("harga") & "')", trio)
trio.Open()
cm.ExecuteNonQuery()
trio.Close()
Next
cm.Dispose()
notrans_071.Text = ""
jenis_071.Text = ""
dt.Rows.Clear()
End Sub
End Class
Rhyri221009
Total Tayangan Halaman
Senin, 12 Desember 2011
Rabu, 11 Mei 2011
Cara mudah Install windows 7 via Flashdisk
Peralatan yang di perlukan :
1. dvd installer windows 7 / atau file iso windows 7
2. Flasdisk minimal 4 gb atau lebih
3. software / aplikasi untuk membuat bootable flasdisk yaitu Windows 7 usb/dvd tool i
4. software Ultra ISO ……..( fungsinya mengconvert DVD installer windows 7 menjadi file berformat .ISO/image )
Langkah pertama adalah :
membuat file installer DVD Windows 7 menjadi file berexstensi .iso menggunakan ultra iso………..
- gunakan PC atau laptop yang mempunyai DVD eksternal, jangan lupa install software Ultra ISO, masukkan kepingan DVD installer windows 7 klik kanan pilih ultra ISO kemudian simpan di folder baru. nanti hasil filenya akan berexstensi windows 7.iso .
Langkah Kedua :
Membuat flasdisk kita menjadi bootable sekaligus mengcopy file installer windows 7 yang sudah kita jadikan filenya berformat/ berexstensi .iso
- colokkan flasdisk dan formatlah terlebih dahulu
- jalankan software windows 7 dvd/usb tools

klik browse…..terus pilih file .iso yang sdh kita simpan di folder baru tadi. terus klik next

terus pilih media yang akan di gunakan……………pilih USB device

Biasanya windows 7 usb/dvd tools akan secara otomatis mencari sendiri setelah kita klik USB Device, terus kita klik Begin copying.

Setelah itu proses copy file berjalan dan tunggu sampai selesai……..setelah proses pengopian selesai, flasdisk sudah bisa kita gunakan sebagai media untuk menginstall windows 7 via flasdisk di netbook atau PC yang tidak mempunyai DVD rom / drive Optic.
Langkah ketiga :
menginstall OS window 7 ke netbook
- ubah dulu setingan booting awal netbook anda lewat bios, booting pertama ubah menjadi lewat Flasdisk. restart netbook anda sekaligus colokkan flasdisk yang kita buat bootablenya.

- maka proses setup windows dan pengintallan akan berjalan……….bla…bla
- pada saat proses install windows berjalan dan mendekati proses complete installation, netbook akan restart sekali lagi. nah….pada saat booting, masuk ke bios dulu kemudian ubah booting awalnya melalui hardisk. setelah itu proses complete installation windows 7 akan berjalan dan tunggu sampai selesai. hemmm…….mudah kannnnnnn. semoga kalian bisa mempraktekkannya sendiri.
sekian dan terima kasih.
1. dvd installer windows 7 / atau file iso windows 7
2. Flasdisk minimal 4 gb atau lebih
3. software / aplikasi untuk membuat bootable flasdisk yaitu Windows 7 usb/dvd tool i
4. software Ultra ISO ……..( fungsinya mengconvert DVD installer windows 7 menjadi file berformat .ISO/image )
Langkah pertama adalah :
membuat file installer DVD Windows 7 menjadi file berexstensi .iso menggunakan ultra iso………..
- gunakan PC atau laptop yang mempunyai DVD eksternal, jangan lupa install software Ultra ISO, masukkan kepingan DVD installer windows 7 klik kanan pilih ultra ISO kemudian simpan di folder baru. nanti hasil filenya akan berexstensi windows 7.iso .
Langkah Kedua :
Membuat flasdisk kita menjadi bootable sekaligus mengcopy file installer windows 7 yang sudah kita jadikan filenya berformat/ berexstensi .iso
- colokkan flasdisk dan formatlah terlebih dahulu
- jalankan software windows 7 dvd/usb tools
klik browse…..terus pilih file .iso yang sdh kita simpan di folder baru tadi. terus klik next
terus pilih media yang akan di gunakan……………pilih USB device
Biasanya windows 7 usb/dvd tools akan secara otomatis mencari sendiri setelah kita klik USB Device, terus kita klik Begin copying.
Setelah itu proses copy file berjalan dan tunggu sampai selesai……..setelah proses pengopian selesai, flasdisk sudah bisa kita gunakan sebagai media untuk menginstall windows 7 via flasdisk di netbook atau PC yang tidak mempunyai DVD rom / drive Optic.
Langkah ketiga :
menginstall OS window 7 ke netbook
- ubah dulu setingan booting awal netbook anda lewat bios, booting pertama ubah menjadi lewat Flasdisk. restart netbook anda sekaligus colokkan flasdisk yang kita buat bootablenya.
- maka proses setup windows dan pengintallan akan berjalan……….bla…bla
- pada saat proses install windows berjalan dan mendekati proses complete installation, netbook akan restart sekali lagi. nah….pada saat booting, masuk ke bios dulu kemudian ubah booting awalnya melalui hardisk. setelah itu proses complete installation windows 7 akan berjalan dan tunggu sampai selesai. hemmm…….mudah kannnnnnn. semoga kalian bisa mempraktekkannya sendiri.
sekian dan terima kasih.
Kamis, 31 Maret 2011
Accounting in Everyday Life
As long as there will people in this world, there will be business, and as long as there is business, there will be accounting. Accounting is involved in virtually everything in our lives whether we know it or not, and its importance can sometimes be overlooked. Everything needs accounting. From a baseball cap you wear, to the food you eat, to the company you work for, or even the music you hear on the radio, accounting is needed and was involved in all of those things steps of production or operation.
An accountant measures, aggregates and reports financial information necessary for the sake of decision making by organizational managers, owners, investors, government agencies and other users. From the previous statement, we can see the indication that shows how accounting is important in careers. Everything needs accounting. Whether you are a doctor, or an ordinary office worker, you would still need to play with numbers and take into account the cost of things that you used or used by someone else. Timely and accurate information on operations is crucial to success in the recent days of rapidly changing business environment, and the accountant is the one responsible for the critical business function that mostly though indirectly affects our career and everyday life.
In one's life, can we say accounting will promote a better lifestyle? I say, definitely yes. The management and control of personal finance is a subject of immense importance today to people. In the world that we lived in today, there is barely a single person who lives without a single debt in their life. Debts ranging from credits cards, car payments, mortgages, and so on, one can find themselves stuck in economic hardships that in some cases destroy lives and has become wake-up calls to many people. Wouldn't it be nice to know exactly where the increases and decreases are coming from and going to, respectively, to whatever degree of detail you need? Of course it would be. Many of us spend without much thought on the impact of the action. It is essential on knowing the proportions being spent on the basic necessities and luxuries and how to have that proper balance across our expenditure. Life is not as easy as driving on the road with traffic lights and signs along the way, but we still need financial signals in our life whether we are in a comfortable phase or in the danger phase that requires help. Accounting can help people detect these dangers. If not much, the least it can do is ensure that your debt is under control and manageable.
Handling all the calculations of accounting can be tedious and bothersome but can make all the difference one's finances. You can strategically plan ahead to save for your retirement, your children's college fund, or luxury or two later down the road. We can see the importance of this concept by noticing companies today whose operations are strictly financial advising. It can be concluded that in the era that we are living in today, Families, and retirees depend on the credibility of financial reporting for their futures and livelihoods. With financial pressure amounting in many peoples' lives, accounting is seen as important in so many ways that it is almost impossible to live without it.
An accountant measures, aggregates and reports financial information necessary for the sake of decision making by organizational managers, owners, investors, government agencies and other users. From the previous statement, we can see the indication that shows how accounting is important in careers. Everything needs accounting. Whether you are a doctor, or an ordinary office worker, you would still need to play with numbers and take into account the cost of things that you used or used by someone else. Timely and accurate information on operations is crucial to success in the recent days of rapidly changing business environment, and the accountant is the one responsible for the critical business function that mostly though indirectly affects our career and everyday life.
In one's life, can we say accounting will promote a better lifestyle? I say, definitely yes. The management and control of personal finance is a subject of immense importance today to people. In the world that we lived in today, there is barely a single person who lives without a single debt in their life. Debts ranging from credits cards, car payments, mortgages, and so on, one can find themselves stuck in economic hardships that in some cases destroy lives and has become wake-up calls to many people. Wouldn't it be nice to know exactly where the increases and decreases are coming from and going to, respectively, to whatever degree of detail you need? Of course it would be. Many of us spend without much thought on the impact of the action. It is essential on knowing the proportions being spent on the basic necessities and luxuries and how to have that proper balance across our expenditure. Life is not as easy as driving on the road with traffic lights and signs along the way, but we still need financial signals in our life whether we are in a comfortable phase or in the danger phase that requires help. Accounting can help people detect these dangers. If not much, the least it can do is ensure that your debt is under control and manageable.
Handling all the calculations of accounting can be tedious and bothersome but can make all the difference one's finances. You can strategically plan ahead to save for your retirement, your children's college fund, or luxury or two later down the road. We can see the importance of this concept by noticing companies today whose operations are strictly financial advising. It can be concluded that in the era that we are living in today, Families, and retirees depend on the credibility of financial reporting for their futures and livelihoods. With financial pressure amounting in many peoples' lives, accounting is seen as important in so many ways that it is almost impossible to live without it.
Kegelisahan Tentang Diri
Sahabat, seringkah anda dihampiri pertanyaan-pertanyaan seperti'untuk apa semua ini? Apakah makna hidup saya? Kenapa hidup saya terasa
datar saja, berputar-putar dari hari ke hari? Hanya pergantian episode
senang dan sedih? Mengapa saya seperti dikuasai oleh kehidupan saya?' pun
mulai muncul di hati anda.
Sebenarnya, Allah setiap saat 'memanggil-manggil' kita untuk
kembali kepada-Nya. Dengan cara apa saja. Dia, dengan kasih sayang-Nya,
terkadang membuat suasana kehidupan seorang anak manusia sedemikian rupa
sehingga kalbunya dibuat-Nya 'menoleh' kepada Allah. Hanya saja, teramat
sedikit orang yang mendengarkan, atau berusaha mendengarkan,
panggilan-Nya ini.
Allah terkadang membuat kita terus menerus gelisah, atau terus
menerus mempertanyakan 'Siapa diri saya ini sebenarnya? Apa tujuan saya?
Apa makna kehidupan saya?,' dan sebagainya. Bukankah kegalauan semacam
ini adalah sebuah seruan, panggilan supaya kita mencari kesejatian?
Mencari kebenaran? Mencari 'Al-Haqq'? Allah, percayalah, akan selalu
menurunkan pancingan-pancingan pada manusia untuk mencari-Nya.
Dalam hal ini, Allah amatlah pengasih. Apakah seseorang percaya
kepada-Nya atau tidak, beragama atau tidak, Dia tidak pandang bulu.
Apakah seseorang membaca kitab-Nya atau tidak, percaya pada para
utusan-Nya ataupun tidak, semua orang pernah dipanggil-Nya dengan cara
seperti ini. Setiap orang pasti dipanggil-Nya seperti ini untuk mencari
kesejatian, untuk mencari hakikat kehidupan.
Bentuk 'pancingan' semacam ini pula yang dialami oleh para pencari,
maupun para Nabi. Nabi Ibrahim yang gelisah dan mencari tempat mengabdi
(ilah), yang diabadikan dalam QS 6:74-79. Juga kita lihat Nabi Musa,
misalnya. Setelah hanyut di sungai nil, dia dibesarkan oleh salah seorang
maha raja yang terbesar sepanjang sejarah, Ramses I. Hidup dalam
kemewahan, kecukupan, hanya bersenang-senang. Tapi dia selalu 'galau'
ketika melihat di sekelilingnya, bangsa Bani Israil, yang ketika itu
menjadi warga mesir kelas rendahan, sebagai budak. Dia yang hidup dengan
ayahnya Ramses I, tentunya setiap hari melihat sisi kemanusiaan ayahnya,
normal saja. Dia mungkin hanya sedikit heran mengapa masyarakat mesir mau
menyembah ayahnya.
Hanya saja, kadang kemewahan, kenyamanan, mengubur harta kita yang
sangat berharga itu: potensi kita untuk mencari siapakah diri kita
sebenarnya. Kita disibukkan oleh pekerjaan, dibuai oleh kesibukan,
mengejar kesuksesan kerja, atau ditipu oleh dalih mengejar karir atau
sekolah, atau nyaman bersama keluarga. Sangat sering, ketika hal ini
terjadi, pertanyaan-pertanyaan esensial seperti itu, yaitu potensi
pencarian kebenaran yang kita bawa sejak lahir, yang ketika kanak-kanak
sangat nyata, terkubur dan terlupakan begitu saja seiring waktu kita
menjadi semakin dewasa. Padahal, itu adalah 'potensi mencari Allah' yang
Dia bekali untuk kita ketika lahir. Bukan berarti kita harus meninggalkan
semua itu, bukan sama sekali. Tapi, jangan biarkan semua itu
menenggelamkan potensi pencarian kebenaran yang telah Allah turunkan pada
kita semenjak lahir.
Ketika kita tenggelam dalam dunia seperti itu, kita bahkan tidak
menyadari bahwa kehidupan kita berputar-putar saja dari hari ke hari.
Sekolah, mengejar karir, pergi pagi pulang sore, terima gaji, menikah,
membesarkan anak, menyekolahkan anak, pensiun, dan seterusnya setiap
hari, selama bertahun-tahun. Apakah hanya itu? Bukankah kita tanpa sadar
telah terjebak kepada pusaran kehidupan yang terus berputar-putar saja,
tanpa makna? Celakanya, kita mencetak anak-anak kita untuk mengikuti pola
yang sama dengan kita. Pada saatnya nanti, mungkin hidup mereka pun akan
mengulangi putaran-putaran tanpa makna yang pernah kita tempuh.
Sangat jarang orang yang potensi pencariannya akan Allah belum
terkubur. Dalam hal ini, jika kita masih saja gelisah mencari makna
kehidupan, maka kegelisahan kita merupakan hal yang perlu disyukuri.
Berapa orang, sahabat, yang masih mau mendengarkan kegelisahannya
sendiri? Padahal kegelisahannya itu merupakan rembesan dari jiwa yang
menjerit tidak ingin terkubur dalam kehidupan dunia. Dia 'menjerit' ingin
mencari Al-Haqq, dan 'rembesannya' kadang naik ke permukaan dalam bentuk
kegelisahan.
Sayang, sebagian orang segera membantai kegelisahannya, potensi
pencarian kebenarannya ini, justru pada saat ketika ia timbul; karena
secara psikologis hal ini memang terasa tidak nyaman. Maka untuk
melupakannya, ia semakin menenggelamkan diri lebih dalam lagi dalam
pekerjaannya, kesibukannya, bersenang-senang, atau berdalih menutupi
kegelisahannya dengan berusaha lebih lagi mencintai istri dan anak, atau
keluarga, menenggelamkan diri dalam keasyikan hobi... dan sebagainya.
Atau, membantainya dengan kesenangan spiritual sesaat, seperti
datang ke pengajian bukan dengan niat mencariNya tapi hanya untuk
melenyapkan kegelisahannya, seperti obat sakit kepala saja. Kegelisahan
hilang, dia pun pergi lagi.. Atau juga dengan mengindoktrinasi dirinya:
"Manusia diciptakan untuk beribadah!! Segala jawaban telah ada di
Qur'an!!" Oke, tapi ibadah yang seperti apa? Bisakah kita benar-benar
beribadah, tanpa mengetahui maknanya? Atau lebih jauh lagi, mampukah ia
menjangkau makna Qur'an?
Beranikah kita jujur pada diri kita sendiri: Jika qur'an benar,
mengapa kegelisahannya tidak hilang? Mengapa qur'an seperti kitab suci
yang tidak teratur susunannya? Mengapa ayatnya kadang melompat-lompat,
dari satu topik ke yang lainnya secara mendadak? Jika kita beriman,
apakah iman itu? Apakah takwa itu? Apakah Lauhul Mahfudz? Apakah Ad-diin?
Apakah Shiratal Mustaqim? Jalan yang lurus yang bagaimana? Mengapa qur'an
terasa abstrak dan tak terjangkau makna sebenarnya? Ini sebenarnya
pertanyaan-pertanyaan jujur, dan sama sekali bukan menghakimi qur'an.
Kadang orang terus saja mengindoktrinasi dirinya sendiri, padahal
qur'an sendiri menyatakan bahwa tidak ada yang mampu menjangkaunya selain
orang-orang yang disucikan/ mutahhiriin, (QS 56:77-79).
[Q.S. 56] "Sesungguhnya Al Qur'an ini adalah bacaan yang sangat
mulia (77). Pada kitab yang terpelihara (78). Dan tidak menyentuhnya
kecuali hamba-hamba yang disucikan/ muthahhiriin (79)."
Apakah dia berani yakin bahwa dia adalah seorang yang telah
disucikan, sehingga makna qur'an telah terbentang begitu jelas
dihadapannya? Jika demikian, apa gunanya pernyataan : "Semua jawaban
telah ada di Qur'an" baginya? Apakah ia akan terus saja membohongi diri
dengan membaca terjemahan qur'an dan memaksakan diri meyakini bahwa ia
telah mendapatkan maknanya?
Jeritan jiwanya tersebut ia timbun dengan segala cara. Ia tidak
ingin mendengarkannya. Hal ini, sudah barang tentu akan membuat seseorang
semakin terperangkap saja dalam rutinitasnya, dan semakin terkuburlah
potensi pencariannya akan kebenaran. Padahal seharusnya 'jeritan jiwa'
tersebut didengarkan. Jika anak kita menangis karena lapar, apakah kita
akan pergi bersenang-senang untuk melupakannya, dan berharap anak kita
akan berhenti menangis dengan sendirinya? Bukankah seharusnya kita
mencari tahu, kenapa anak kita menangis?
Kembali kepada kisah Musa as. Demikian pula Musa, ia pun,
sebagaimana kita semua, sejak kecil dibekali pertanyaan-pertanyaan dari
dalam dirinya. Dibekali kegelisahan pencarian kebenaran. Bibit-bibitnya
ada. Allah, untuk menumbuhkan bibit-bibit pencariannya itu supaya tidak
terkubur dalam kemewahan kehidupan istana, menyiramnya dengan kebingungan
yang lebih besar lagi.
Ia dipaksa-Nya menelan kenyataan bahwa ayahnya pernah membantai
jutaan bayi lelaki Bani Israil. Ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa
ayahnya menganggap Bani Israil adalah warga kelas dua yang rendah, bodoh,
dan memang patut diperbudak. Puncaknya, ia dipaksaNya menelan kenyataan
bahwa dirinya sendiri ternyata merupakan seorang anak Bani Israil,
keturunan warga budak kelas dua, yang dipungut dari sungai Nil. Pada saat
ini, pada diri seorang Pangeran Musa lenyaplah sudah harga dirinya.
Hancur semua masa lalunya. Dia seorang tanpa sejarah diri sekarang.
Ditambah lagi ia telah membunuh seorang lelaki, maka larilah ia
terlunta-lunta, menggelandang di padang pasir, mempertanyakan siapa
dirinya sebenarnya.
Justru, pada saat inilah ia berangkat dengan pertanyaan terpenting
bagi seorang pejalan suluk, yang telah tumbuh disiram subur oleh Allah
dengan air kegalauan: "Siapa diriku sebenarnya?".
Pertanyaan ini telah tumbuh kokoh dalam diri Musa as., dan
sebagaimana kita semua mengetahui kisah lanjutannya, di ujung padang
pasir Madyan ada seorang pembimbing untuk menempuh jalan menuju Allah
ta'ala, yaitu Nabi Syu'aib as, yang lalu menyuruh anaknya untuk menjemput
Musa dan membawa Musa kepadanya.
Di bawah bimbingannya, Musa dididik menempuh jalan taubat, supaya
"arafa nafsahu", untuk "arif akan nafs (jiwa)-nya sendiri". Dan dengan
bimbingan Syu'aib akhirnya ia mengerti dengan sebenar-benarnya (ia telah
'arif), bahwa dirinya diciptakan Allah sebagai seorang Rasul bagi bangsa
Bani Israil, bukan sebagai seorang pangeran Mesir. Ia menemukan kembali
misi hidupnya, tugas kelahirannya yang untuk apa Allah telah
menciptakannya. Ia telah menemukan untuk apa dia diciptakan, yang
disabdakan oleh Rasulullah SAW: "Setiap orang dimudahkan untuk
mengerjakan apa yang telah Dia ciptakan untuk itu." (Shahih Bukhari no.
2026)
Maka dari itu, sahabat-sahabat, jika ada diantara anda yang mungkin
ingin sekali bertemu seorang guru sejati, atau seorang mursyid yang Haqq
untuk minta bimbingannya, maka terlebih dahulu anda harus benar-benar
mencari Allah, mencari kebenaran, mencari Al-Haqq. Pertanyaan "Siapakan
aku? Untuk apa aku diciptakan?" harus benar-benar telah tumbuh dalam diri
kita (dan itu pun bukan menjadi jaminan bahwa perjalanannya akan
berhasil). Anda memang telah benar-benar butuh jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan itu. Jika tidak demikian, atau jika belum merasa
benar-benar membutuhkan, percayalah, tidak akan ada seorang mursyid
sejati yang akan mengutus anak-anaknya untuk menjemput anda.
"Man 'arafa nafsahu, faqad 'arafa rabbahu", bukan semata-mata
artinya "siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya." Kata "
'Arafa", juga "Ma'rifat," berasal dari kata 'arif, yang bermakna
'sepenuhnya memahami', 'mengetahui kebenarannya dengan sebenar-benarnya';
dan bukan sekedar mengetahui. dan nafsahu berasal dari kata 'nafs', salah
satu dari tiga unsur yang membentuk manusia (Jasad, nafs, dan ruh).
Jadi, kurang lebih maknanya adalah "barangsiapa yang 'arif
(sebenar-benarnya telah mengetahui) akan nafs-nya, maka akan 'arif pula
akan Rabbnya". Jalan untuk mengenal kebenaran hakiki, mengenal Allah,
hanyalah dengan mengenal nafs terlebih dahulu.
Langganan:
Postingan (Atom)
